Setya Novanto Minta Maaf Kepada Bangsa
https://habananggroee.blogspot.com/2015/12/setya-novanto-minta-maaf-kepada-bangsa.html
Setya Novanto akhirnya mengundurkan diri dari posisinya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Novanto menyampaikan surat pengunduran dirinya hari ini, Rabu malam, 16 Desember 2015. "Izinkan saya menyampaikan pengunduran diri dari posisi pimpinan dewan, seraya memohon maaf atas kekhilafan yang terjadi, serta teriring doa yang tulus untuk bangsa," ujar Novanto melalui keterangan tertulis, Rabu, 16 Desember 2015.
Novanto mengatakan sikap yang ia ambil dilandasi penghormatannya kepada seluruh rakyat Indonesia dan mencermati perkembangan sidang etik di Mahkamah Kehormatan Dewan. Selama menjadi pimpinan Dewan, ia mengakui begitu banyak dinamika yang harus dihadapi. Ia mengaku menyikapi berbagai dinamika dengan bijaksana. "Amanah yang saya emban selama ini adalah sebuah tanggungjawab yang harus selalu bertolak dari hal tersebut," kata dia.
Dengan pengunduran diri ini, MKD memutuskan menutup kasus pelanggaran etik yang Novanto lakukan dan memutuskan mulai hari ini Novanto bukan lagi Ketua DPR. Tadinya mayoritas anggota berpendapat Novanto harus mendapat sanksi sedang dan harus dicopot sebagi Ketua DPR. Novanto disidang etik karena diduga meminta saham dan mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada bos PT. Freeport Indonesia Maroef Sjamsuddin.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sirajuddin Abdul Wahab mengatakan seharusnya pengunduran diri Setya Novanto dari jabatannya sebagai Ketua DPR dilakukan sejak awal pelaporan perkara ‘Papa Minta Saham’. Namun, dengan pengunduran diri Setya saat putusan sidang Mahkamah Kehormatan Dewan sudah terlambat. Pengunduran diri yang terlambat ini justru mengesankan Novanto sudah yakin jabatannya akan runtuh tanpa mengundurkan diri.
“Apabila itu dilakukan sejak awal bisa saja opini publik akan memuji langkah dan sikap Ketua DPR RI, karena menjunjung tinggi budaya malu serta menunjukkan dirinya sebagai sosok negarawan sejati,” kata Sirajuddin Abdul Wahab, Rabu, 16 Desember 2015.



